Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Apa yang saya lihat dan saya rasakan selama acara dauroh MT XL yang lalu, tercipta iklim “positif” yang membuat kita semua mencoba menjalani proses demi proses secara positif. Efeknya, mendorong kita semua untuk mau mencoba dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
Saya yakin, selama acara berjalan, tidak sedikit hal-hal yang menggoda kita untuk mengeluh, komplein, atau bahkan membuat kita malas menjalaninya. Namun kita juga terkondisikan untuk mau melawan godaan itu semua.
Hasilnya..... kita semua bisa mengambil makna dan manfaat dari aktivitas itu semua.
Apa yang saya lihat dan saya rasakan selama acara dauroh MT XL yang lalu, tercipta iklim “positif” yang membuat kita semua mencoba menjalani proses demi proses secara positif. Efeknya, mendorong kita semua untuk mau mencoba dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
Saya yakin, selama acara berjalan, tidak sedikit hal-hal yang menggoda kita untuk mengeluh, komplein, atau bahkan membuat kita malas menjalaninya. Namun kita juga terkondisikan untuk mau melawan godaan itu semua.
Hasilnya..... kita semua bisa mengambil makna dan manfaat dari aktivitas itu semua.
Artinya: kegiatan selama 2 hari satu malam tersebut telah berhasil melatih kita untuk memberi makna pada setiap detik yang kita jalani, selanjutnya tinggal bagaimana kita menikmatinya. (bayangkan kalau ini terjadi selama hidup kita, bukan cuma 2 hari saja, masyaAllah begitu berharganya hidup kita)
Alhamdulillah ..... secara pribadi saya diberi nikmati untuk bisa hadir dalam acara tersebut, sebab dengan demikian saya bisa belajar bagaimana sebetulnya hidup paripurna sebagai khalifah di muka bumi ini. Saya semakin diyakinkan bahwa, kekayaan, jabatan, kepandaian, keterampilan, ketenaran, keperkasaan, dll. Itu semua adalah amanat dan sarana yang bisa membawa kita menuju kebahagiaan hakiki yang penuh barokah, atau bisa juga membawa kita menuju kesengsaraan yang penuh dengan laknat dan kesia-siaan, tergantung bagaimana kita menggunakannya, karena itu semua adalah alat bukanlah tujuan, baru bermakna bila kita sudah menggunakannya. Nah..... pertanyaannya, bagaimanakah kita menggunakannya?
Mengutip kata-kata Iwan Abdurahman (Abah Iwan – penggubah lagu): ”Saya tidak takut kapan dan di mana saya akan mati, tapi saya sangat takut setiap detik dalam hidup ini terisi oleh sia-sia” , sia-sia karena kita salah memaknai hidup ini.
Itulah kira-kira testimoni saya, mudah-mudahan bisa mengisi detik hidup kita untuk menjadikan diri kita Rahmatan lil alamin.
Ditulis oleh:
Gebi Yani Bawole
20 Juni 2008
Alhamdulillah ..... secara pribadi saya diberi nikmati untuk bisa hadir dalam acara tersebut, sebab dengan demikian saya bisa belajar bagaimana sebetulnya hidup paripurna sebagai khalifah di muka bumi ini. Saya semakin diyakinkan bahwa, kekayaan, jabatan, kepandaian, keterampilan, ketenaran, keperkasaan, dll. Itu semua adalah amanat dan sarana yang bisa membawa kita menuju kebahagiaan hakiki yang penuh barokah, atau bisa juga membawa kita menuju kesengsaraan yang penuh dengan laknat dan kesia-siaan, tergantung bagaimana kita menggunakannya, karena itu semua adalah alat bukanlah tujuan, baru bermakna bila kita sudah menggunakannya. Nah..... pertanyaannya, bagaimanakah kita menggunakannya?
Mengutip kata-kata Iwan Abdurahman (Abah Iwan – penggubah lagu): ”Saya tidak takut kapan dan di mana saya akan mati, tapi saya sangat takut setiap detik dalam hidup ini terisi oleh sia-sia” , sia-sia karena kita salah memaknai hidup ini.
Itulah kira-kira testimoni saya, mudah-mudahan bisa mengisi detik hidup kita untuk menjadikan diri kita Rahmatan lil alamin.
Ditulis oleh:
Gebi Yani Bawole
20 Juni 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar