Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Bagaimana perasaan saya ketika mengikuti daurah MTXL?
Wah, bukannya mau melebih-lebihkan, tapi saya benar-benar kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kebahagiaan karena mengikuti acara ini. SubhanAllah...
Mungkin bagi yang lain, daurah ini hanya sekedar gathering biasa, hanya saja dengan nuansa yang jauh lebih Islami. Tapi bagi saya, ini adalah obat. Ya, daurah ini mengobati kerinduan saya terhadap komunitas dakwah sebelumnya di Semarang, berikut segala aktifitasnya.
Dulu, pertama kali terima pengumuman bahwa saya diterima magang di XL,, di tengah syukur,, ada ketakutan yang terbersit malu-malu. Takut akan kefuturan karena akan kehilangan kajian kelompok pekanan, kajian umum setiap selasa dan jum’at pagi, dan yang paling saya sukai dari semua itu, mengisi mentoring. Saya sangat iri pada teman-teman saya yang tidak harus magang selama enam bulan, sehingga tidak harus merasakan kehilangan seperti yang saya rasakan. Karena memang, diantara semua pementor di kampus, hanya saya yang harus magang selama enam bulan.
Ternyata, Allah tidak menelantarkan saya. Saya benar-benar tidak menyangka bisa menikmati dauroh disini. Ada kajian pekanan setiap kamis saja, saya sudah sangat bersyukur sekali. Lah ini, pake dauroh segala...
Saking semangatnya, saya jadi ingat Waktu mba Shinta bilang akan ada dauroh, spontan saya langsung bilang, “ikut!” dan saya pun menunggu saat-saat dibukanya pendaftaran. Akhirnya hari itu datang juga.. pendaftaran dibuka, dan begitu saya tahu bahwa pesertanya dibatasi, hanya 50 orang, saya langsung japri ke teman sekosan saya untuk daftar bereng, kemudian nge-lock komputer dan langsung turun ke lantai dua. Pokoknya harus daftar sekarang juga. Saya tidak mau tidak bisa ikut hanya karena alasan kehabisan tiket, karena Akan klihatan sekali kalo saya suka menunda-nunda pekerjaan, dan itu bukan teladan yang baik.
Sampai dibawah, ternyata uangnya ketinggalan... saya panik, takut kalau ambil uang dulu, nanti keduluan orang dan kehabisan tiket. Pokoknya paranoid abis! Alhamdulillah, teman saya yang saya ajak daftar berinisiatif untuk memberi pinjaman dulu. Jadilah saya ngutang untuk ikut dauroh ini. Hehehe...
Tapi, ga sia-sia harus ngutang untuk ikut dauroh ini.. saya tidak sekedar mendapat ilmu dari materi-materinya, tapi saya juga mendapat pelajaran yang sangat berharga, yaitu belajar untuk mendengar. Ya, selama ini, sebagai pementor, saya selalu jadi yang ingin didengar, yang ingin berbicara. akibatnya tanpa disadari, ada sedikit ketakaburan, menganggap yang lain tidak lebih mengerti dari saya. Di dauroh ini, Allah SWT membukakan mata dan telinga saya, betapa arti diri ini untuk agama masih sangat kecil, karena ternyata, ketika kultum dll, banyak sekali peserta dauroh yang memiliki skill public speaking yang jauh lebih keren dari saya. Saya kembali dingatkan untuk terus belajar dan tidak cepat berpuas diri.
Selain itu, saya juga mendapat teladan yang baik, ada beberapa dari teman dauroh yang begitu kalem, Lembut dan halus tutur katanya. Dari sini mungkin Allah SWT menyindir saya, betapa selama ini saya masih terlalu urakan untuk disebut akhwat.
Dan yang paling saya tidak bisa lupa, ketika ada kesempatan makan bersama ustadzah, salah satu anak beliau sedang sibuk mencari label halal dari sebuah permen. SubhanAllah, dia belum lulus TK, tapi dia sudah diajari membaca dan bisa, hanya untuk tahu apakah makanan yang masuk ke perutnya itu halal atau tidak.
Saya juga salut atas kepanitiaannya. Saya yakin, tidak mudah untuk menyelenggarakan dauroh ini. Tapi saya tidak melihat satupun wajah lelah. Yang ada hanya wajah-wajah yang ikhlas yang penuh semangat, dan kami masih juga mendapatkan pelayanan yang sangat baik. Jazakumullah khairan katsiir, untuk kepanitiaan Dauroh MTXL I.
Entah kenapa, ketika menyimak materi-materi keagamaan saat dauroh, saya sama sekali tidak merasakan kantuk. Tapi seninnya,dan seminggu berikutnya, waktu mengikuti training, saya tidak bisa melek tanpa kopi. Apakah bakat saya memang dalam bidang keagamaan dan dakwah adalah jalan saya? WAllahu A’lam Bishshowab...
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Ditulis oleh:
Ayunita Anzani
23 Juni 2008
Ternyata, Allah tidak menelantarkan saya. Saya benar-benar tidak menyangka bisa menikmati dauroh disini. Ada kajian pekanan setiap kamis saja, saya sudah sangat bersyukur sekali. Lah ini, pake dauroh segala...
Saking semangatnya, saya jadi ingat Waktu mba Shinta bilang akan ada dauroh, spontan saya langsung bilang, “ikut!” dan saya pun menunggu saat-saat dibukanya pendaftaran. Akhirnya hari itu datang juga.. pendaftaran dibuka, dan begitu saya tahu bahwa pesertanya dibatasi, hanya 50 orang, saya langsung japri ke teman sekosan saya untuk daftar bereng, kemudian nge-lock komputer dan langsung turun ke lantai dua. Pokoknya harus daftar sekarang juga. Saya tidak mau tidak bisa ikut hanya karena alasan kehabisan tiket, karena Akan klihatan sekali kalo saya suka menunda-nunda pekerjaan, dan itu bukan teladan yang baik.
Sampai dibawah, ternyata uangnya ketinggalan... saya panik, takut kalau ambil uang dulu, nanti keduluan orang dan kehabisan tiket. Pokoknya paranoid abis! Alhamdulillah, teman saya yang saya ajak daftar berinisiatif untuk memberi pinjaman dulu. Jadilah saya ngutang untuk ikut dauroh ini. Hehehe...
Tapi, ga sia-sia harus ngutang untuk ikut dauroh ini.. saya tidak sekedar mendapat ilmu dari materi-materinya, tapi saya juga mendapat pelajaran yang sangat berharga, yaitu belajar untuk mendengar. Ya, selama ini, sebagai pementor, saya selalu jadi yang ingin didengar, yang ingin berbicara. akibatnya tanpa disadari, ada sedikit ketakaburan, menganggap yang lain tidak lebih mengerti dari saya. Di dauroh ini, Allah SWT membukakan mata dan telinga saya, betapa arti diri ini untuk agama masih sangat kecil, karena ternyata, ketika kultum dll, banyak sekali peserta dauroh yang memiliki skill public speaking yang jauh lebih keren dari saya. Saya kembali dingatkan untuk terus belajar dan tidak cepat berpuas diri.
Selain itu, saya juga mendapat teladan yang baik, ada beberapa dari teman dauroh yang begitu kalem, Lembut dan halus tutur katanya. Dari sini mungkin Allah SWT menyindir saya, betapa selama ini saya masih terlalu urakan untuk disebut akhwat.
Dan yang paling saya tidak bisa lupa, ketika ada kesempatan makan bersama ustadzah, salah satu anak beliau sedang sibuk mencari label halal dari sebuah permen. SubhanAllah, dia belum lulus TK, tapi dia sudah diajari membaca dan bisa, hanya untuk tahu apakah makanan yang masuk ke perutnya itu halal atau tidak.
Saya juga salut atas kepanitiaannya. Saya yakin, tidak mudah untuk menyelenggarakan dauroh ini. Tapi saya tidak melihat satupun wajah lelah. Yang ada hanya wajah-wajah yang ikhlas yang penuh semangat, dan kami masih juga mendapatkan pelayanan yang sangat baik. Jazakumullah khairan katsiir, untuk kepanitiaan Dauroh MTXL I.
Entah kenapa, ketika menyimak materi-materi keagamaan saat dauroh, saya sama sekali tidak merasakan kantuk. Tapi seninnya,dan seminggu berikutnya, waktu mengikuti training, saya tidak bisa melek tanpa kopi. Apakah bakat saya memang dalam bidang keagamaan dan dakwah adalah jalan saya? WAllahu A’lam Bishshowab...
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Ditulis oleh:
Ayunita Anzani
23 Juni 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar